Jumat, 22 Februari 2013

3 Bulan Tidak Mampu Memandang Wajah Suami


Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.
Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.
Sang suami memanggil sang istri yang telah lama  menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.
Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.
Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.
Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.
Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.
“Haah, pergi?”. Kata sang istri.
“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya.  Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.
Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.
(Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

                                                    Oleh : Bapak Ustaz H. Abd. Rahman Sakka
Read more

Rabu, 20 Februari 2013

PROFIL MAN 3 MAKASSAR



MAN 3  Makassar berdiri di atas sebidang tanah seluas 3000 m2 dengan luas bangunan 864 m2 saat ini telah memiliki berbagai sarana dan prasarana. Tersedianya sarana dan prasarana dalam sebuah lembaga pendidikan adalah salah satu komponen penting terselenggaranya proses pembelajaran secara baik dan lancar. Keberadaan fasilitas pendukung ini di samping disiapkan oleh pemerintah juga berasal dari swadaya MAN 3  Makassar sendiri.
Secara lebih jelas tentang gambaran sarana dan prasarana yang dimiliki MAN 3  Makassar dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 1. Keadaan Sarana Prasarana
No.
Sarana Prasarana
Jumlah Unit
Ket.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
Ruang belajar
Ruang Kepala Sekolah
Ruang Tata Usaha
Ruang Guru
Perpustakaan
Laboratorium Biologi
Laboratorium Kimia
Laboratorium Fisika
Laboratorium Bahasa
Laboratorium Komputer
Masjid
Lapangan Upacara/olah raga
Kantin/Koperasi
Televisi
Komputer Administrasi/Lap top
UKS
Ruang Pramuka
Ruang Dapur
Ruang OSIS
Ruang PMR
Ruang BP/BK
Aula Pertemuan
WC
22
1
1
2
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
3
1
1
1
1
1
1
1
7
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Rusak
Rusak
Rusak Ringan
Rusak berat
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Dengan statusnya sebagai sekolah yang bercirikan Islam, maka MAN 3 Makassar mempunyai ciri yaitu jumlah jam mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan sekolah umum lainnya. Ciri yang lain adalah siswa-siswi menggunakan busana muslim/muslimah dalam berbagai aktivitas kegiatan sekolah. 
Pada Tahun 1992 MAN 3 Biringkanaya Makassar hanyalah merupakan kelas jauh dari MAN 1 Talasalapang. Namun dengan melihat perkembangannya yang cukup pesat, maka pada Tahun 1995 kelas jauh ini diubah menjadi sebuah sekolah yang berdiri sendiri dan dinegerikan dengan nama MAN 3 Biringkanaya berdasarkan SK Pendirian No. 515.A/1995 tanggal 27 November 1995, dan No. Statistik Madrasah 31173111003. Kemudian pada tahun pelajaran 2010-2011, MAN 3 Makassar telah terakreditasi dengan nilai ”A” berdasarkan Sertifikat Akreditasi No. 010954.  Adapun Kepala Madrasah yang bertugas di MAN 3 sejak awal berdirinya adalah :
1. Drs. H. Amir AR., SH., MS.                Tahun 1995 – 1998
2. Drs. H. Muhaiyyang Kadir                   Tahun 1998 – 2000
3. Drs. H. Amir AR., SH., MS.                Tahun 2000 – 2008
4. Dr. H. Abd. Rahim A, M.Hi                 Tahun 2008 – sekarang
Jumlah seluruh personil madrasah adalah 75 orang yang terdiri dari  63 orang guru, staf  23 orang, kebersihan 2 orang, dan Satpam 2 orang

Read more